Pengantar
Pada dasarnya orangtua ingin agar anak-anaknya sukses. Menjadi orang yang berhasil di masa depan, memiliki karir yang bagus, cerdas, kreatif, jujur, berani, disiplin dan berkarakter.
Namun dalam kenyataannya tidak sedikit yang kemudian menjadi kecewa, karena ternyata anak-anak tersebut tidak berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari mulai anak-anak yang mulai berani melawan orangtua, malas belajar, membolos, merokok, kebut-kebutan, tawuran, seks bebas sampai kepada penggunaan obat-obatan terlarang yang sering menyeret mereka masuk ke dalam sel berjeruji besi.
Betapa sedihnya para orangtua yang demikian. Apa yang salah sehingga akhirnya anak-anak justru memiliki perilaku menyimpang tidak sebagaimana yang diharapkan? Bukankah mereka telah mendidik dengan sebaik-baiknya, bahkan terkadang sampai menggunakan cara-cara kekerasan?
Fenomena demikian kini tampaknya mulai mewarnai kehidupan di banyak keluarga di tengah masyarakat kita, khususnya di kota-kota besar.
Kiranya ada sesuatu yang keliru, yang perlu dengan jujur dikoreksi dan kemudian diperbaiki kembali dengan sungguh-sungguh.
Memahami anak-anak kita
Kekeliruan orangtua dalam mendidik anak sering justru dimulai sejak anak-anak masih berusia dini. Anak yang pada dasarnya cerdas, kreatif, penuh rasa ingin tahu dan selalu riang gembira sering ditangkap secara keliru oleh para orangtua, yang kemudian justru menganggapnya sebagai anak nakal dan susah diatur.
Keberhasilan suatu pendidikan sebetulnya perlu dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dalam memahami anak sebagai idividu yang unik, di mana setiap anak dilihat sebagai individu utuh yang memiliki potensi-potensi berbeda satu sama lain namun sangat berharga dan saling melengkapi. Mungkin dapat diibaratkan sebagai bunga-bunga aneka warna di suatu taman yang indah, mereka akan tumbuh dan merekah bersama !
Selain memahami bahwa anak merupakan individu unik yang saling berbeda, ada beberapa catatan lagi dalam kaitannya dengan upaya kita memahami anak. Yaitu bahwa pada dasarnya anak adalah :
Bukan Orang Dewasa Mini
Anak adalah tetap anak, bukan orang dewasa ukuran mini. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan bila harus dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat denga kaca mata anak-anak.
Untuk itu menghadapi mereka dibutuhkan adanya kesabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam. Mengharapkan mereka bisa mengerti sesuatu dengan cepat dengan membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang dewasa seperti kita, tentu bukan merupakan sikap yang bijaksana.
Dunia Bermain
Dunia mereka adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh dengan spontanitas dan menyenangkan. Sesuatu akan dilakukan oleh anak dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan. Namun sebaliknya akan dibenci dan dijauhi oleh anak apabila suasananya tidak menyenangkan. Seorang anak akan rajin belajar atau menyelesaikan pekerjaan rumahnya apabila suasana belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.
Berkembang
Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologis. Tidak bisa anak yang dulu sewaktu masih bayi tampak begitu lucu dan penurut, sekarang pada usia 4 tahun misalnya, juga tetap dituntut untuk lucu dan penurut. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut.
Dengan memahami bahwa anak berkembang, kita akan tetap tenang dan bersikap dengan tepat menghadapi berbagai gejala yan mungkin muncul pada setiap tahap tertentu perkembangannya tersebut.
Senang Meniru
Anak-anak pada dasarnya adalah peniru yang baik. Mereka senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru.
Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang mempunyai lingkungan di mana orang-orang di sekelilingnya juga gemar membaca . Mereka meniru ibu,ayah, kakak atau orang-orang lain di sekelilingnya yang mempunyai kebiasaan membaca dengan baik tersebut.
Dengan demikian maka orang tua dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.
Kreatif
Anak-anak pada dasarnya sangat kreatif.
Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif, seperti : rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi risiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal yang baru, dan sebagainya. Namun sering dikatakan bahwa begitu anak masuk ke sekolah, kreativitas anak pun semakin menurun. Hal ini sering disebabkan karena pengajaran di TK dan SD terlalu menekankan pada cara berpikir secara konvergen, sementara cara berpikir secara divergen kurang dirangsang.
Dalam hal ini maka orang tua perlu memahami kreativitas yang ada pada setiap diri anak, dengan bersikap luwes dan kreatif pula.
Dalam pendidikan formal, bahan-bahan pelajaran di sekolah, termasuk bahan ulangan dan ujian hendaknya tidak sekedar menuntut anak untuk memberikan satu-satunya jawaban yang benar menurut guru atau kunci. Kepada mereka tetaplah perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya secara “liar”, dengan menerima dan menghargai adanya alternatif jawaban yang saling berbeda namun kreatif.
Begitu pula orang tua di rumah, hendaknya tidak selalu hanya memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak, namun secara rendah hati tetap harus berani menerima gagasan-gagasan anak yang mungkin tampaknya aneh dan tidak lazim. Sebab hanya dengan cara demikian anak pun akan terpacu untuk belajar dengan motivasi yang tinggi.
Anak-anak yang dihargai cenderung akan terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang penuh rasa percaya diri untuk menjadi anak-anak unggul di masa depan secara lebih optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar